WASPADAI DAN KENALI GEJALA HIPOTERMIA SAAT MENDAKI GUNUNG

4:24 PM
mengenal hipotermia dan cara pencegahannya

Hipotermia adalah penyakit yang disebabkan oleh temperatur tubuh menurun drastis di bawah suhu normal yang dibutuhkan oleh metabolisme dan fungsi tubuh, yaitu di bawah 35°C. Hipotermia tak hanya terjadi karena suhu dan ketinggian, tapi juga kondisi badan. Suhu tubuh normal manusia berkisar 36.5 – 37.5 derajat celcius. Jika suhu tubuh berada di bawah 35 derajat, berarti betul terkena hipotermia. Hipotermia termasuk salah satu kondisi yang membutuhkan penanganan medis darurat.

Para pendaki gunung wajib membekali diri dengan pengetahuan tentang hipotermia ini, karena biasanya penyakit ini menimpa pendaki gunung, dimana cuaca di gunung sangat dingin dan cenderung tidak stabil. Hipotermia  jika tidak ditangani dengan benar dapat berakibat fatal bahkan kematia bagi pendaki. Telah banyak kasus kematian di gunung yang diakibatkan oleh hiptermia ini.

Gejala-gejala hipotermia umumnya berkembang secara perlahan-lahan sehingga sering tidak disadari oleh pengidapnya. Orang yang mengalami hipotermia ringan akan menunjukkan gejala menggigil yang disertai rasa lelah, pusing, lapar, mual, kulit yang dingin atau pucat, dan napas yang cepat.

Jika suhu tubuh terus menurun hingga di bawah 32°C, tubuh pengidap hipotermia biasanya tidak mampu untuk menggigil lagi. Ini mengindikasikan tingkat keparahan hipotermia sudah memasuki tahap menengah hingga parah.

Pengidap serangan hipotermia tingkat menengah akan mengalami gejala-gejala yang meliputi:
  • Mengantuk atau lemas.
  • Bicara tidak jelas atau bergumam.
  • Linglung dan bingung.
  • Kehilangan akal sehat, misalnya membuka pakaian walaupun sedang kedinginan.
  • Kesulitan bergerak dan koordinasi tubuh yang menurun.
  • Napas yang pelan dan pendek.
Jika tidak segera ditangani, suhu tubuh akan makin menurun dan menyebabkan gejalagejala
berikut ini:
  • Kesadaran yang terus menurun hingga pingsan.
  • Pupil mata yang melebar.
  • Napas yang pendek atau sama sekali tidak bernapas.
  • Denyut nadi yang lemah, tidak teratur, atau bahkan sama sekali tidak ada denyut nadi.
Gejala Hipotermia Berat
  • Penderita jatuh dan tak bisa melangkah, kemudian meringkuk untuk menjaga suhu tubuhnya tetap hangat.
  • Merinding makin hebat dan datang bergelombang, dan tiba-tiba berhenti. Makin lama fase berhenti merinding semakin panjang, hingga akhirnya benar-benar berhenti akibat glikogen yang dibakar di dalam otot sudah tidak mencukupi untuk melawan suhu tubuh yang terus menurun. Akibatnya, tubuh berhenti merinding untuk menjaga glukosa.
  • Otot mulai kaku. Ini terjadi akibat aliran darah ke permukaan berkurang dan disebabkan oleh pembentukan asam laktat dan karbondioksida di dalam otot.
  • Kulit terlihat mulai pucat.
  • Bola mata tampak membesar.
  • Denyut nadi terasa menurun.
  • Pada suhu 30 derajat Celcius, kondisi tubuh masuk ke dalam fase penghentian metabolisme. Korban tampak seperti mati, padahal sebetulnya masih hidup.
  • Pada suhu internal 32 derajat Celcius, tubuh berusaha memasuki fase hibernasi, menghentikan seluruh aliran darah permukaan dan mengurangi aktivitas jantung.
Mencegah Hipotermia
  • Tindakan pencegahan sudah pasti lebih baik daripada pengobatan. Bagi pada pendaki gunung hendaknya selalu mempersiapkan slat-alat yang dibutuhkan untuk pendakian. Peralatan standar pendakian seperti tenda, alat masak obat-obatan, pakaian hangat adalah hal yang wajib. Silahkan baca artikel: Perlengkapan Mendaki Gunung.
  • Jangan lupa untuk selalu mengganti pakaian jalan dengan pakaian kering begitu tiba di camp.
  • Dirikanlah tenda di tempat yang terlindung dari angin. Sebaiknya pakailah tenda yang terdiri dua lapis, tenda dan flysheet.
  • Jaga tubuh untuk tetap hangat dengan jaket, sarung tangan, kaus kaki, kupluk, syal dan tidur di dalam tenda memakai sleeping bag, bukan cuma sarung.
  • Makan karbohidrat yang cukup seperti nasi, roti, sereal, lalu makan daging agar dibakar menjadi energi. Jangan Cuma bawa mie instant saja kalau mendaki.
  • Bawa stok minuman hangat yang banyak seperti teh, kopi, coklat, wedang dll.
  • Hindari menggunakan pakaian Jeans ke gunung karena selain akan akan menyusahkan saat berjalan, bahan jeans tidak menyerap keringat dan kalau basah juga susah kering kembali.
  • Jangan pernah lupa bawa rain coat (jas hujan) meskipun mendaki gunung saat musim kemarau, cuaca di gunung itu beda, hujan bisa turun kapan saja.
  • Jangan sok gengsi,  merasa kuat dan takut dikatakan cengeng, kalau lelah istirahat saja, jangan paksakan diri. Semua pendaki gunung juga tahu kalau kegiatan mendaki itu melelahkan, jadi jangan takut dikira lemah, terus memaksakan diri nanti malah akan menjadi beban tim yang lainnya.
Penanganan Hipotermia
Sebelum pengidap hipotermia menerima penanganan dari petugas medis profesional,
ada beberapa langkah pertolongan darurat yang dapat Anda lakukan untuk membantu di
antaranya:
  • Memantau pernapasan pengidap. Segera berikan napas buatan jika pengidap berhenti bernapas.
  • Perlakukan pengidap dengan hati-hati. Gerakan yang kasar atau berlebihan dapat memicu serangan jantung. Menggosok tangan atau kaki pengidap juga sebaiknya dihindari.
  • Segera pindahkan penderita ke dalam tenda atau ke tempat yang hangat. Tetapi jangan langsung memandikan dengan air hangat.
  • Lepaskan pakaian pengidap jika basah dan ganti dengan yang kering.
  • Tutupi tubuh pengidap (terutama bagian perut dan kepala) dengan selimut atau pakaian agar hangat.
  • Lapisi tanah dengan selimut sebelum membaringkan penderita.
  • Berbagi panas tubuh dengan pengidap, misalnya dengan memeluknya secara hati-hati. Kontak langsung dari kulit ke kulit akan lebih efektif.
  • Berikan minuman hangat jika pengidap masih sadar dan bisa menelan. Tetapi jangan memberi minuman yang mengandung alkohol atau kafein.
  • Gunakan handuk kering yang dihangatkan atau botol berisi air hangat untuk mengompres penderita. Kompres ini sebaiknya diletakkan di leher, dada, atau selangkangan. Jangan meletakkannya di bagian kaki atau tangan karena dapat mendorong darah yang dingin untuk mengalir ke jantung, paru-paru, dan otak. 
Sekian artikel mengenai hipotermia semiga ada manfaatnya. [Dihimpun dari berbagai sumber]