INGIN MENDAKI GUNUNG DENGAN SELAMAT: HINDARI 7 HAL BERIKUT INI

11:39 AM
mendaki gunung dengan selamat
Mendaki gunung adalah perjalanan berat yang membutuhkan perencanaan matang. Mendaki gunung tidak sama dengan melakukan perjalanan di kota, yang segala kebutuhan bisa kita dapat dengan segera. Mendaki gunung membutuhkan kesiapan mental dan fisik karena jalur yang kita hadapi berat dan menantang. Kesalahan-kesalahan yang dilakukan bisa jadi akan berakibat fatal bahkan berujung maut. Oleh  karena itu di sini dipaparkan beberapa hal yang perlu dihindari saat mendaki gunung.

Sok jagoan
Sikap sok jagoan ini nyaris selalu menjadi penyebab utama musibah bagi pendaki pemula. Dengan alasan mencari tantangan, para pendaki pemula ini mencari jalur di luar jalur resmi. Parahnya, seringkali mereka melakukannya tanpa kemampuan navigasi yang baik. Jangankan GPS dan peta topografi, sekadar kompas pun tak bawa. Lalu apa yang diandalkan? Maka petualangan mereka pun biasanya berakhir di dasar jurang, mati kedinginan di lembah atau ditandu Tim SAR ke rumah sakit. Membuka jalur baru juga berarti merusak konservasi. Mengganggu hidupan liar dan ekosistem. Para pendaki berpengalaman tak akan melakukannya selain untuk kepentingan penelitian dan ilmu pengetahuan.

Mendaki gunung dengan informasi yang minim
Minimnya informasi yang tentang gunung yang akan didaki merupakan salah satu penyebab matinya pendaki di gunung. Tidak mengenal medan sama sekali bisa berakibat fatal bagi pendaki pemula. Semakin banyak informasi yang diperoleh terkait gunung yang akan didaki akan meminimalisir risiko pendakian.
Manajemen Logistik yang Buruk
Salah satu masalah pendaki pemula adalah buruknya manajemen logistik. Dalam pikiran mereka, mendaki gunung identik dengan mie instan. Hal ini salah besar. Mendaki gunung adalah kegiatan berat. Butuh kalori hingga 4.000 kkal per hari. Bayangkan dengan aktivitas seharihari yang rata-rata hanya membutuhkan 2.000 kkal per hari. Kebutuhan kalori yang besar ini didapat dari dagingdagingan berlemak, coklat dan karbohidrat. Tentu bukan mieinstan yang sulit dicerna tubuh dan menyerap air dalam tubuh. Seringkali para pemula mendapati nasi yang ditanak tak matang sempurna. Maka kombinasi makanan mereka jadi nasi keras, mie instan dan ikan asin. Karena tak nikmat, napsu makan pun berkurang. Padahal tubuh butuh banyak masukan untuk tenaga dan menjaga suhu agar tetap hangat. Dalam kondisi lemas dan lapar inilah sering terjadi kecelakaan. Kurangnya konsentrasi, pingsan hingga kematian.

Mengepak Barang Secara Serampangan
Packing atau mengepak barang dalam ransel adalah seni yang harus dikuasai pendaki gunung. Seluruh barang bawaan harus masuk ke dalam ransel. Karena medan sulit, tak boleh ada yang tergantung di luar ransel selain botol air minum. Tangan harus bebas karena memegang walking stick atau berpegangan meniti akarakar pohon jika dibutuhkan. Maka lihatlah para pendaki pemula. Dengan panci digantung ke ransel. Tangan menenteng sleeping bag atau jaket. Ransel mereka tak dilapisi lagi dengan cover bag. Pakaian di dalam ransel tak dilapis plastik. Jika hujan, semua pakaian, jaket dan sleeping basah. Padahal sangat penting menjaga pakaian ganti tetap kering. Tidur dengan keadaan basah bisa mengakibatkan hipotermia. Inilah penyebab utama kematian seorang pendaki gunung. Suhu tubuh turun karena kedinginan. Jangan pernah anggap enteng mengepak barang. Ini yang sering dimasabodohkan pendaki pemula.

Mendaki Dengan Rombongan Yang Besar
Masalah yang sering muncul dalam rombongan besar adalah banyaknya konflik. Keinginan anggota yang beraneka ragam dan sikap intoleransi. Pendakian ideal, beranggotakan empat sampai enam orang pendaki. Pilihlah satu orang untuk memimpin pendakian. Bukan karena dia ketua, tapi memang memiliki watak bisa diandalkan dan leadership.
Hipotermia disangka kesurupan
Pendaki pemula mendaki tanpa ilmu. Berbekal semangat dan tanpa perlengkapan memadai mereka nekat mendaki gunung. Karena tidak tahu ilmu P3K, maka sering terjadi salah kaprah. Pada penderita hipotermia, korban akan menggigil dan kehilangan kesadaran. Lalu mulai bicara melantur. Karena nyerocos tak karuan dan sukar diajak komunikasi, teman-temannya menyangka si korban kesurupan. Mereka malah membacakan doa untuk mengusir setan. Inilah yang mungkin terjadi pada Shizuko. Seharusnya, segera lakukan pertolongan. Ganti pakaiannya dengan pakaian kering. Masukkan dalam sleeping bag yang sudah dihangatkan. Taruh juga beberapa botol air panas di dalam sleeping bag itu. Jaga kondisi lingkungan tetap hangat. Jika sudah membaik beri makanan hangat sedikit demi sedikit. Hindari memberi kopi atau minuman keras.

Aku si cepat
Ciri khas pendaki pemula, apalagi yang masih berusia muda adalah selalu bergerak dengan cepat. Mereka selalu tergesagesa, menjadikan naik gunung seolah lomba lari ke puncak. Malu menjadi yang paling belakang, karena sering dianggap sebagai yang terlemah. Karena itu biasanya waktu tempuh ke puncak lebih singkat. Baru setelah perjalanan turun, aneka masalah datang. Kehabisan tenaga, cidera otot hingga kecelakaan dan kehilangan arah menjadi ancaman. Idealnya, ada seorang sweeper yang berjalan paling belakang. Biasanya orang ini yang paling kuat dan bisa diandalkan. Tugasnya menyapu seluruh anggota tim. Memastikan tak ada yang keteteran atau tertinggal di belakang. Namun dalam rombongan pendaki pemula, tak ada yang mau menerima tugas ini. Jadi sweeper dianggap hina.

Menjadi paling pertama sampai puncak dan pertama turun ke kaki gunung jadi tujuan utama. “Aku si cepat. Tanpa sadar kutinggalkan sahabatku yang kelelahan mati di gunung.”
sumber: Merdeka.com